04 Februari 2013

Seluk Beluk Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung


Berbicara tentang sejarah seakan tidak ada habisnya. Rasanya ketika mendengar uraian sejarah, kita seperti bisa membayangkan berbagai peristiwa yang terjadi di kota ini. Sejarah seperti mesin waktu, dan begitu pula dengan sejarah mengenai seluk-beluk Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) berikut, yang disampaikan oleh Mas Desmond, seorang guide senior di museum ini. MKAA pertama kali diresmikan pada tanggal 24 April 1980 oleh Presiden Soeharto sebagai peringatan 25 tahun Konperensi Asia-Afrika. Tanggal tersebut juga dipilih berdasarkan hari kelahiran Dasasila Bandung. Lokasi dan gedung dari MKAA sendiri digagas oleh Menteri Luar Negeri, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Gagasan ini juga berangkat dari banyaknya keinginan tokoh-tokoh negara Asia-Afrika dan negara Gerakan Non-Blok yang ingin menggali kembali nilai-nilai semangat Bandung. Dari situlah ide mengenai pendirian museum ini berasal. Setelah menunjuk Direktur Jendral Protokol dan Konsulat Deplu sebagai Ketua Harian MKAA, akhirnya berdirilah MKAA sebagai hasil dari kerjasama antara Departemen Luar Negeri, Universitas Padjadjaran, Pemerintah Provinsi Jabar, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Sebelum peresmian MKAA, dulunya gedung ini dimiliki oleh pemerintah kolonial Belanda. Pemerintah Belanda sendiri menjadikan gedung ini sebagai salah satu gedung paling mewah di Nusantara dan hanya diijinkan untuk kulit putih saja disebabkan oleh dominasi kulit putih dan kepemilikan kulit putih atas gedung ini. Gedung ini mengalami beberapa renovasi, yakni pada tahun 1921 direnovasi pertama kali oleh dosen pertama Soekarno (ITB) bernama Charles Schumacher yang memberikan sentuhan art deco. Kemudian, renovasi kedua terjadi pada tahun 1940 oleh arsitek Belanda lainnya bernama Albert Frederick Albers yang memperkenalkan gaya melengkung, dan bisa dikatakan sebagai antidot terhadap gaya art deco yang ada sebelumnya.

Sebelum menjadi Gedung Merdeka, dulunya gedung ini bernama Societet De Concordia pada masa kolonial Belanda. Namun, ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, nama gedung berubah menjadi Gedung Yamato di bagian timur sedangkan bagian barat dinamakan Daitua Keikang. Pada tahun 1945, gedung ini menjadi markas tentara Jepang yang tidak ingin menyerahkan kedaulatan kepada tanah jajahan Indonesia. Tahun sebelumnya, yakni 1944, terjadi kebakaran di bagian atap gedung ini yang akhirnya bisa diperbaiki kembali.

Ketika agresi militer Belanda I terjadi di Bandung, gedung kembali beralih nama menjadi Societet De Concordia hingga tahun 1954. Pada tahun 1954, bertepatan dengan pemilu pertama, gedung ini dibeli oleh pemerintah Indonesia melalui Sekretariat Negara hingga saat ini. Hasil pemilu pertama pada tahun 1954 menetapkan gedung ini sebagai Gedung Konstituante di dalam merencanakan Undang-Undang Dasar Sementara untuk menggantikan UUD 1945. Nama Gedung Merdeka sendiri diberikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 7 April 1955. Hm, jika dihitung, gedung ini ternyata telah mengalami pergantian nama sebanyak empat kali!

Dari saat itu hingga kini, MKAA telah berdiri di tengah-tengah kota Bandung selama 58 tahun. MKAA sendiri memiliki program yang mengacu pada visi dan misi baru yang dilaksanakan sejak empat tahun terakhir, diantaranya, menciptakan museum bertaraf internasional, melibatkan partisipasi masyarakat, yang artinya mengajak masyarakat untuk mengembangkan museum itu bersama-sama. Cara ini sendiri dinamakan Konsep Sahabat Museum yang memiliki tujuan edukasi publik. Edukasi publik itu sendiri bertujuan untuk menggali nilai-nilai yang lebih tinggi dari hanya sekedar menikmati lukisan ataupun melihat buku langka.

Selanjutnya, di MKAA ini pun terdapat beberapa klub budaya semacam Klub Heiwa, Klub Budaya Timur Tengah, Klub Bahasa Esperanto, Klub Sampurasun, Citizen Journalist, Diskusi Buku Langka, Diskusi Film, Public Educator, dan masih banyak lagi kegiatan yang dijalankan secara reguler. Seluruh klub ini diminati cukup banyak oleh masyarakat umur 15-35 tahun dengan peran yang berbeda-beda.

Wah, ternyata dibalik MKAA yang selama ini seringkali kita lewati, terdapat banyak sejarah yang tak ternilai harganya. Apalagi ditambah dengan program-programnya yang menarik dan tentunya menambah pengetahun bagi yang tertarik untuk mengikutinya. Semangat terus Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung! (KCL)

Sumber : BandungReview.com


Artikel Terkait Artikel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

All About Bandung

Jumlah Penayangan

Statistik Web

free counters

user online